Sisi unik seorang Aisyah Nurul Aini yang tidak diketahui oleh banyak orang
Berawal dari suka membaca sampai ingin menjadi Seorang Penulis
Penulis : Aimatuzzahrok (04020120030)/KPI/A1
Menulis
adalah kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media
dengan menggunakan aksara. Tujuan dari menulis sendiri adalah agar pembaca
mengetahui, mengerti dan memahami nilai-nilai dalam sebuah tulisan, sehingga
pembaca ikut berpikir, berpendapat atau melakukan sesuatu yang berhubungan
dengan isi tulisan. Seseorang yang suka menulis biasanya suka membaca dan tidak
jauh-jauh dari buku, perpustakaan
ataupun toko buku.
Ada seseorang
yang saya kenal, yaitu teman kuliah saya sendiri, yang lumayan dekat juga
dengan saya. Namanya Aisyah Nurul Aini atau biasa dipanggil Ayse, Aisyah.
Gadis
cantik kelahiran Kediri, 23 Januari 2002 ini, adalah Mahasiswa semester 3 di
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Program Studi Komunikasi dan
Penyiaran Islam.
Hobinya
cukup menarik, yakni menulis. Dan cita-citanya menjadi seorang penulis. Aku
sempat bertanya-tanya, apa sih menariknya menjadi penulis. Lalu ia menceritakan
tentang awal mula ketertarikannya terhadap dunia kepenulisan.
Bermula
pada saat ia duduk di bangku SMA, kelas 10 tepatnya. Ia gemar membaca novel dengan
genre teenlit atau tulisan remaja. Singkatnya novel dengan genre teenlit ini
mengusung tema kehidupan anak remaja pada umumnya dengan berbagai pergolakan
masalah dalam mencari jati dirinya, bahkan hingga dimana sedang memasuki
masa-masanya jatuh cinta atau ‘cinta monyet’ dan patah hati.
Seiring
berjalannya waktu, ia mencoba membaca novel dengan genre Fiksi Ilmiah. Dan
benar saja, ia langsung jatuh cinta dengan novel ber-genre Fiksi ilmiah. Fiksi
Ilmiah adalah genre fiksi spekulatif yang berhubungan dengan konsep imajinatif
seperti pengaturan futuristik, perjalanan ruang angkasa, perjalanan waktu,
lebih cepat dari perjalanan cahaya, alam semesta parallel, dan kehidupan di
luar bumi. Fiksi ilmiah sering mengeksplorasi konsekuensi potensial dari inovasi
ilmiah dan lainnya. Ia menyukai novel dengan genre ini karena dengan
membacanya, ia dapat berimajinasi dengan membayangkan visual, karakter, tempat
dan suasana yang tertulis dalam novel tersebut. Karena hanya berbentuk tulisan
saja, ia menjadi bebas berimajinasi tanpa terbatas oleh gambar. Permainan
imajinasi inilah yang membuat karakter dan konflik dalam sebuah novel menjadi
lebih hidup.
Saking
gemarnya membaca novel, ia sampai pernah membaca lebih dari 500 halaman
perharinya. Dari situlah muncul keinginan dalam dirinya untuk menjadi seorang
penulis. Alasannya cukup menarik, menurutnya suatu kejadian yang ia alami
setiap harinya akan mudah terlupakan, jadi ia ingin menuangkan cerita dan
pengalamannya dalam bentuk tulisan. “Karena tulisanlah yang akan tetap abadi. Kita bisa tiada, tetapi
tulisan kita akan tetap ada selama dunia ini masih ada”. Begitu jelasnya.
Ia
mempunyai banyak mimpi yang tidak bisa ia ceritakan kepada orang-orang
disekitarnya. Menurutnya akan lebih mudah menuangkannya dalam sebuah tulisan,
dengan pemilihan kata yang tepat, tulisan itu bisa menjadi sebuah karya seni
baginya.
Bukan
hanya cerita saja, ia juga tertarik dalam menulis puisi. Namun ia hanya akan
menulis puisi disaat sedang jatuh cinta atau patah hati. Karena akan lebih
mudah untuk mendapatkan feel dari
realita keadaan yang sedang ia rasakan. “Kalau perasaan sedang biasa-biasa
saja, agak sulit untuk mendapat ide dan perasaannya. Memang aneh, namun itulah
kenyataannya.” Begitu jelasnya.
Motto
hidupnya adalah “Wheresoever you go will be a moment in your life”.
Komentar
Posting Komentar