TRADISI UPACARA PITON-PITON “TEDHAK SITEN” YANG MASIH DILAKUKAN OLEH WARGA NGRONGGOT, NGANJUK, JAWA TIMUR

Penulis : Aimatuzzahrok (04020120030) KPI/A1

Sumber : Dokumen Pribadi

Aimatuzzahrok's Journey, Nganjuk. Tradisi Upacara Piton-piton atau "Tedhak Siten" merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa ketika bayi menginjak umur 7 bulan dalam hitungan pasaran Jawa. Perlu diketahui juga bahwa hitungan satu bulan dalam pasaran Jawa berjumlah 36 hari. Jadi bulan ke tujuh kalender Jawa bagi kelahiran si Bayi setara dengan delapan bulan kalender masehi. Tedhak sinten juga dikenal sebagai upacara turun tanah. Berasal dari dua istilah Bahasa jawa, tedhak yang artinya kaki dan Siten (siti) yang berarti tanah.

Tradisi ini diketahui sudah mulai memudar, karena dunia telah memasuki era modern yang membuat orang-orang tidak terlalu mementingkan dan mempercayai hal-hal semacam ini. Beberapa orang yang masih melaksanakan tradisi ini hanyalah orang desa yang masih kental budayanya, namun ada juga masyarakat Jawa yang melaksanakan tradisi ini untuk menghormati budaya leluhur dan bentuk rasa syukur kepada Allah Swt.

Meskipun tradisi ini sudah mulai memudar, keluarga Sholekah, warga Dusun Dingin, Desa Ngronggot, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk Jawa Timur ini, masih tetap mempertahankan budaya dari nenek moyangnya. Beliau melaksanakan tradisi ini sebagai penghormatan bagi leluhur serta bentuk rasa syukur kepada Allah Swt.

"Kalau bukan kita yang meneruskan budaya, budaya ini akan hilang nantinya. Kalian generasi muda jangan sampai memebiarkan budaya kita hilang begitu saja." ucap Sholekah, Minggu (30/3).

Rangkaian Filosofi Tedhak Siten

Upacara ini memiliki beberapa rangkaian upacara yang saling berkaitan. Tahap pertama, bayi akan dituntun berjalan diatas makanan tradisional jawa yakni 'jadah' atau 'tetel' yang telah diwarnai dengan tujuh warna yang berbeda diantaranya coklat, merah, kuning, hijau, ungu, biru, putih yang pada masing-masing warnanya terdapat makna tentang kehidupan.
Penyusunan jadah ini dimulai dari warna gelap hingga warna paling terang, sebagai simbol bahwa masalah yang berat nantinya ada jalan keluar atau titik terang.

Sumber : Dokumen Pribadi

Tahap kedua, bayi dibimbing untuk menaiki tangga yang dibuat dari tebu jenis Arjuna yang melambangkan harapan agar si Bayi memiliki sifat ksatria Arjuna (tokoh pewayangan yang dikenal bertanggungjawab dan tangguh).  Dalam Bahasa Jawa 'tebu' merupakan kependekan dari antebing kalbu yang bermakna keteguhan hati.

Sumber : Dokumen Pribadi

Tahap selanjutnya, anak dimasukkan dalam kurungan ayam yang telah diberi beraneka benda, seperti uang, mainan, alat musik, buku, atau makanan. Benda yang nantinya dipilih sang anak menggambarkan potensi anak tersebut. Di usia tujuh atau delapan bulan, anak dipercaya masih memiliki naluri yang kuat. "Dia ambil uang dan pulpen, pasti gedenya pinter cari uang dan berprestasi disekolah." ucap salah satu warga yang menyaksikan prosesi ritual tersebut, Minggu (30/3).



Tahap selanjutnya, menebarkan beras kuning (beras yang dicampur dengan parutan kunyit) yang dicampur dengan uang logam untuk diperebutkan oleh undangan anak-anak.Ritual ini dimaksudkan agar anak memiliki sifat dermawan. "Biar anak-anak seneng." ucap Sholekah, Minggu (30/3).

Tahap selanjutnya, anak dimandikan dengan air yang telah dicampur kembang setaman. Lalu setelah dimandikan bayi dipakaikan baju baru. Hal ini menyimbolkan pengharapan agar bayi selalu sehat, membawa nama harum bagi keluarga, hidup layak, makmur dan berguna bagi lingkungannya.

Sumber : Dokumen Pribadi

Setelah semua prosesi dilakukan, selanjutnya adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh kiai atau ustadz. Dalam adat Jawa, Makanan tradisional disediakan sebagai bentuk syukur kepada Allah swt yang telah memberi rezeki dan kehidupan yang baik pada keluarga. Serta untuk dibagikan kepada warga sekitar rumah. Makanan tradisional yang disediakan untuk acara tedhak sinten ini berupa tumpeng dan perlengkapannya serta ayam utuh.

Tumpeng sebagai simbol permohonan orangtua agar si Bayi kelak menjadi anak yang berguna. Sayur kacang panjang sebagai simbol umur panjang. Sayur kangkung sebagai simbol kesejahteraan. Kecambah sebagai simbol kesuburan, sedangkan ayam adalah simbol kemandirian.

Tujuan Prosesi Tedhak Siten

Tujuan dilaksanakannya prosesi Tedhak Siten adalah untuk mempersiapkan si bayi agar kedepannya mampu melewati setiap fase kehidupan. Dimulai dari tuntunan dari kedua orangtuanya hingga ia mulai berdiri sendiri dan memiliki kehidupannya sendiri.

Bagi leluhur, upacara ini adalah wujud dari penghormatan pada bumu yang menjadi tempat berdirinya si kecil dengan diiringi lantunan doa. Harapannya agar bayi tersebut selalu diberikan berkah dan pertolongan selama menjalani kehidupan.

Tradisi turun tanah ini sebenarnya adalah kegiatan yang positif, dimana didalam tahapannya terkandung nilai untuk selalu mengingat Sang Pencipta. Upacara ini pun menjadi sarana mengenalkan anak mengenai nilai-nilai luhur dalam tradisi Jawa, disamping menidiknya agar selalu mawas diri dan menjadi pribadi yang berkhlak mulia nantinya.

Sumber :
Oleh penulis. 2021. Hasil wawancara pribadi. Kediaman Sholekah, Nganjuk.
POPMAMA.com
adira.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini